Minggu, 17 Mei 2009

Teriakan Bilou Mentawai Jadi Deteksi Dini Tsunami

Melissa Waller
Bilou (Hylobates klossii).
/

Jumat, 20 Maret 2009 16:47 WIB
PADANG, KOMPAS.com — Suara "nyanyian" bilou (Hylobates klossii), sejenis kera endemik di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, secara turun temurun dipercayai warga lokal sebagai pertanda akan datangnya bencana. Fenomena ini bisa menjadi peringatan dini misalnya pertanda akan datangnya gelombang tsunami.
Program penyadaran kearifan lokal di Mentawai itu mulai disosialisasikan SurfAid Australia, sebuah LSM internasional peduli bencana. Manajer Program Penanggulangan Bencana LSM Internasional SurfAid Australia di Kepulauan Mentawai, Wawan Budianto, mengatakan, SurfAid melaksanakan program tersebut di Mentawai sejak 2007.
Ia menjelaskan, dari pantauan SurfAid di sejumlah daerah di Kepulauan Mentawai diketahui masyarakat lokal telah memiliki kearifan lokal sistem deteksi dini bencana dari gejala alam sekitar yang didominasi hutan tropis. Masyarakat memercayai jika mendengar suara binatang itu dengan alunan bunyi tertentu maka dianggap sebagai pertanda akan ada bahaya.
Bilou adalah jenis kera unik menyerupai siamang endemik yang hanya dijumpai di Kepulauan Mentawai. Sekujur tubuh bilou dipenuhi rambut hitam dan di bagian mata berbulu putih. Sebagai primata endemik, bilou kemudian ditetapkan sebagai binatang dilindungi oleh Pemerintah Indonesia maupun dunia termasuk oleh masyarakat lokal Mentawai.
"Sejak turun temurun, masyarakat lokal Mentawai dilarang berburu bilou," kata Wawan.
Ia menyebutkan, selain untuk deteksi bencana, suara bilou juga pertanda dihentikannya kegiatan perburuan binatang di hutan Mentawai. "Jika ada warga berburu lalu mendengar suara bilou, maka mereka harus menghentikan perburuan, karena jika dilanjutkan akan ada bahaya," tambahnya.
Mentawai termasuk daerah rawan tsunami saat ini. Dari pendataan SurfAid diketahui sekitar 16.000 warga Kepulauan Mentawai bermukim di kawasan pesisir yang rawan bencana tsunami.
Detektor Tsunami Lautan Hindia untuk HP Nokia
Rabu,18 Januari 2006 08:48
Gempa Bumi yang terjadi pada 26 Desember 2006 di Lautan Hindia menyusul terjadinya tsunami yang tak termonitor, mengakibatkan lebih dari 117.000 orang tewas di 11 negara. Mobile Tsunami Detector adalah program yang memprediksi terjadinya tsunami berdasarkan analisa langsung dari data yang terbaca pada the United States Geological Surveys (USGS) Earthquake. Hasil analisa akan terjadinya tsunami disampaikan pada negara-negara yang berbatasan dengan lautan Hindia. Software ini menggunakan koneksi internet (GPRS/CSD) untuk mendapatkan data dari USGS.

Sistem Deteksi ini hanya menangkap kejadian gempa bumi dibawah laut pada lempeng Burma (Burma Microplate) yang mengakibatkan tsunami. Data langsung yang ditangkap oleh United States Geological Survey?s (USGS) Earthquake Hazards Program Software ini menggunakan bahasa program Python. Secara lebih mendalam lihat Nokia Python untuk Seri 60. Software ini cocok untuk : Nokia 3650, 7650, N-Gage, 6600, 6620, 6630, 6680, 7610, N70 and N90. Tertarik? Informasi lebih lanjut dapat didapat pada :http://teavuihuang.com/tsunamidetector (Wiyono - ristek)
Ditemukan, Detektor Tsunami yang Hilang


Written by Redaksi
Sabtu, 25 Maret 2006
Laporan Wartawan JPNNEditor: Buchori M.
PADANG - Alat pendeteksi tsunami (tsunami buoy) yang sempat hilang Kamis lalu akhirnya ditemukan KRI Patimura yang ditugaskan khusus melacak benda tersebut. Tsunami buoy ditemukan pukul 15.20 WIB di perairan perbatasan Sumbar dan Riau. ”Lantaran di KRI Patimura tak memiliki alat pengangkat, tsunami buoy ditarik dulu ke Sibolga. Setelah sampai di Dermaga Sibolga, selanjutnya dinaikkan ke atas kapal untuk dibawa ke Padang," jelas Danlanal Teluk Bayur Kol (E) Munizar Munaf M.T., tadi malam. Alat pendeteksi tsunami yang dipasang di dua titik, Mentawai dan perairan Nias, beberapa waktu lalu, salah satunya dinyatakan hilang. Alat sumbangan negara Jerman itu tidak berada lagi di titik tempat pemasangan awalnya.Informasi tidak beradanya lagi alat itu dari posisi semula diketahui Danlanal setelah pihak Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi (BPPT) melaporkannya sekitar pukul 11.00 WIB kemarin. Alat itu sebenarnya belum dalam keadaan hilang karena masih terpantau. Namun, posisinya sudah bergeser cukup jauh dari titik pemasangannya, diperkirakan mencapai 30 mil laut. Untuk diketahui, tsunami buoy dipasang sebagai langkah antisipasi dan penanggulangan ancaman bahaya tsunami di kawasan Sumatera Bagian Barat. Ini dipasang atas kerja sama Kementerian Ristek dan delegasi Jerman, masing-masing dipasang di kawasan barat Pulau Pagai dan perbatasan antara Pulau Mentawai dengan Pulau Nias. Pemasangan tsunami buoy pertama dipasang di kawasan belakang Pulau Pagai dengan titik koordinat 3 derajat 42 menit LS dan 99 derajat 12 menit BT. Pemasangan alat tersebut ditempatkan pada kedalaman 5.291 meter dari permukaan laut. Tsunami buoy mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap gempa dan tsunami. Deteksi alat sensor tersebut dengan mudah akan ditangkap satelit dan satelit langsung memberikan sinyal ke alat yang ditempatkan di BMG. Dalam keadaan normal, tsunami buoy akan mengirimkan data ke stasiun penerima di darat secara berkala 3 jam, 6 jam, atau 24 jam. Tetapi pada saat terjadi tsunami, secara otomatis mengirimkan sinyal permukaan laut ke tsunami buoy setiap menit, dengan sampling rate 15 detik. Adanya perubahan elevasi muka air laut sebesar lebih dari 2,5 cm dan terekam pada 2 sampling bertutur-turut akan diindikasikan sebagai kejadian tsunami. (*)

Pikiran Rakyat

MEMBUAT alat deteksi tsunami ternyata tak harus mahal, bahkan cukup hanya bermodalkan Rp 120.000,00. Prestasi itu ditorehkan tiga siswa SMA Pribadi Jln. Ranggamalela, Kota Bandung. Atas hasil karya tersebut, mereka berhak mendapatkan medali emas pada Olimpiade Peneliti Muda Internasional (International Young Inventors Project Olimpiad/ IYIPO) di Georgia pada tahun 2007.

Tim SMA Pribadi terdiri atas tiga siswa, yakni Muhammad Yusuf Ritonga (16), Muhammad Dhika Ramadhan (16), dan Adi Dharma Sudrajat (17).

Mereka terinspirasi membuat detektor tsunami setelah membaca maraknya gempa dan gelombang tsunami di Indonesia. "Ide berasal dari pemberitaan tsunami baik di Aceh, Pangandaran Ciamis, Cilacap, dan tempat-tempat lainnya," kata Dhika didampingi Yusuf di kampus SMA Pribadi, Kamis (13/3).

Untuk membuat alat deteksi tsunami, kata Dhika, mereka cukup berburu alat-alat yang diperlukan di toko elektronik yang banyak terdapat di Kota Bandung. "Ukuran alatnya 20 cm x 30 cm sebagai alat deteksi tsunami yang ditempatkan di lautan. Alat ini juga mengirimkan pesan melalui gelombang radio ke alat penerima yang diletakkan di pinggir pantai," ucapnya.

Pendeteksi tsunami tersebut, kata Dhika, bisa diubah sensitivitasnya terhadap tinggi gelombang laut, yang kemudian akan menyalakan alat penerima berupa alarm atau lampu. "Tinggi gelombang laut yang bisa menimbulkan tsunami adalah 10 meter. Kami sudah melakukan percobaan dengan tinggi gelombang antara 3 sampai dengan 4 meter, dan jarak ke alat penerima mencapai 200 meter. Alhamdulillah percobaan berhasil," ucapnya.

Dhika dkk. sudah membuat dua buah prototipe alat deteksi tsunami tersebut, salah satunya dibawa ke Georgia saat mengikuti IYIPO tahun 2007, beberapa bulan lalu.

"Ketika masuk ke Bandara Georgia, kami tak mendapat masalah, padahal alat deteksi dibawa ke kabin pesawat. Namun, ketika mau pulang, alat disita aparat Imigrasi Georgia karena tidak boleh masuk ke kabin pesawat," katanya.

Sedangkan, prototipe yang satunya lagi, disimpan di Kantor Pusat Pasiad (Lembaga Pendidikan Indonesia-Turki) di Jakarta.

Dengan biaya hanya Rp 120.000,00, pendeteksi tsunami tersebut terbilang sangat murah dibandingkan dengan rencana pemerintah Indonesia yang akan membeli alat deteksi tsunami dengan anggaran Rp 1,2 triliun.

Saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengunjungi korban tsunami di Cilacap, Jawa Tengah dua tahun lalu, Presiden mengungkapkan pemerintah telah berkomunikasi dengan DPR RI untuk mengajukan dana sebesar Rp 1,2 triliun, untuk membeli alat deteksi tsunami.

Ketika ditantang kesanggupan mereka untuk membuat alat deteksi tsunami apabila pemerintah memesannya, Dhika dan Yusuf spontan menyatakan kesanggupan untuk memenuhinya. "Kalau pemerintah meminta alat deteksi tsunami dalam jumlah besar, maka kami siap untuk membuatkannya," katanya. (Sarnapi/"PR")

Detektor Tsunami di Gasela Cukup Logis
Pemasangan sirene Indonesian Tsunami Early Warning System (INA-TEWS) untuk mendeteksi tsunami di kawasan pantai Garut Selatan (Gasela) laik dipertimbangkan. Karena Garut yang memiliki wilayah laut seluas 81 km cukup rawan tsunami.
Plt. Sekda Garut, Budiman menyampaikan hal itu usai mengikuti sosialisasi sirene INA-TEWS di ruang rapat setda, Jln. Pembangunan Garut, Selasa (29/1).
“Pemasangan alat ini di kawasan pantai Garut Selatan memang laik dipertimbangkan. Namun ini perlu dikaji lebih jauh, karena menyangkut anggaran. Kita juga belum tahu harganya,” ujar Budiman.
Sirene INA-TEWS diperkenalkan langsung oleh PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) di hadapan sejumlah pejabat dari dinas terkait dan para camat yang berada di daerah pesisir Garut Selatan, yakni Kec. Cibalong, Pamengpeuk, Cikelet, Mekarmukti, Pakenjeng, Bungbulang, dan Kec. Caringin.
Budiman mengatakan, sebetulnya di Garut sudah terpasang pendeteksi tsunami milik Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) di Jln. Miramareu Kp. Pasir Sari, Desa Karya Sari, Kec. Cibalong.
Sementara itu, Fahri, petugas dari PT PSN mengatakan, PT PSN merupakan operator satelit pertama swasta di Indonesia yang menyediakan solusi komunikasi berbasis satelit end to end.
JAKARTA, KAMIS - Alat deteksi dini tsunami buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi atau BPPT dipasang 50 mil laut di utara Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur. Alat ini bisa memberi peringatan dini sekitar 15 menit sebelum gelombang laut sampai ke daratan.

Detektor dini tsunami versi BPPT itu sebelumnya pernah dipasang di selatan Selat Sunda. "Ada pergantian baterai di perangkat dasarnya dan untuk mencocokkan tipe perairannya," kata Kepala Balai Teknologi Survei Kelautan BPPT Ridwan Djamaluddin di Jakarta, Rabu (18/6).

Alat seharga sekitar Rp 5 miliar itu dinilai kurang cocok dengan dinamika perairan Selat Sunda. Karena itu, dipindahkan ke lokasi yang lebih cocok di Nusa Tenggara Timur. Alat ini akan dipasang sekitar 50 mil dari Pulau Komodo pada kedalaman 2.450 meter. Jika terjadi tsunami, penduduk di darat masih sempat dievakusi sekitar 15 menit sebelum gelombang pencapai daratan sehingga jumlah korban bisa diminimalisasi.

Ketika berita ini ditulis, tim BPPT sedang bergerak menuju lokasi baru dengan menggunakan kapal riset Baruna Jaya IV. Kapal yang sama juga digunakan untuk memasang deteksi dini tsunami di laut dalam (deep-ocean assessment and reporting of tsunami/DART II-Easy to Deploy/ETD) dari Amerika Serikat.

Rencananya, alat tersebut selesai dipasang Jumat, 20 Juni 2008. "Sejauh ini tidak ada masalah dengan alat tersebut," ujar Koordinator Desain, Pemeliharaan, dan Operasi Sistem Peringatan Dini Tsunami BPPT Wahyu Pandoe.

Kawasan Nusa Tenggara Timur dipilih karena memiliki tingkat kerawanan tsunami yang relatif tinggi. Rencananya, sekitar 200 mil dari lokasi itu akan dipasang satu alat lagi.

Adapun perangkat deteksi dini tsunami yang akan dipasang terdiri atas dua perangkat, yakni perangkat di permukaan (buoy) dan perangkat di dasar laut (ocean bottom unit/OBU).

Buoy mengapung di permukaan laut dengan diameter sekitar 1 meter, lengkap dengan antena telekomunikasi, sensor meteorologi, dan pengirim sinyal akustik (transducer). Untuk mencegah terbawa arus, tali khusus menghubungkan buoy dengan pemberat ribuan kilogram.

Tak jauh dari lokasi itu, diletakkan OBU yang jarak maksimalnya 500 meter. Platform OBU terdiri atas sensor perekam tekanan, baterai, alat pemroses data terkomputerisasi, dan modem akustik pengirim sinyal data ke sensor permukaan.

Platform diberi pemberat antara 400 hingga 500 kilogram, selain bola-bola pengapung.

Cara kerja

Secara teknis, sensor di OBU mengirim data perubahan tekanan di kolom air secara otomatis. Pengiriman data dapat diatur waktunya. Pada kondisi normal, pengiriman data per satu jam atau sehari sekali. Bila terdeteksi tsunami, data dikirim per menit hingga 15 menit ke stasiun penerima data di BPPT.

Data yang sama diteruskan ke Pusat Sistem Peringatan Dini Tsunami Nasional di Badan Meteorologi dan Geofisika. Data matang dikirim ke daerah yang terindikasi tsunami.

Bila sukses terpasang di utara Pulau Komodo, akan menjadi buoy tsunami aktif keempat di Indonesia. Dua alat bantuan Jerman sudah dipasang di barat Sumatera dan satu alat lainnya di selatan Bali.

Alat DART II ETD yang dipasang di kedalaman 4.700 meter di selatan Pulau Bali, pekan lalu, telah mengirim data ke stasiun penerima data BPPT. (GSA/KOMPAS)
Jakarta, Selasa (26 Juni 2007) — Para pelajar Indonesia telah terbukti
menunjukkan prestasi membanggakan dengan berhasil meraih medali emas di
berbagai olimpiade internasional bidang sain. Tidak hanya berjaya di bidang
ilmu murni, mereka juga unggul di bidang ilmu terapan. Hasil penelitian sain
dan teknologi pelajar Indonesia unggul di berbagai ajang kompetisi
internasional.
Sebagai penghargaan terhadap prestasi para pelajar yang berprestasi
Internasional, pemerintah berencana memberikan beasiswa prestasi. Rencana
pemberian penghargaan disampaikan Menteri Pendidikan Nasional Bambang
Sudibyo ketika menerima sebagian para pelajar yang berhasil meraih medali
emas dari hasil penelitian mereka di Gedung Depdiknas pada hari ini.
Dalam pertemuan itu Mendiknas didampingi Direktur Jenderal Manajemen
Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Mandikdasmen) Suyanto dan Direktur
Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Dirjen PMPTK)
Fasli Jalal.
Para pelajar yang telah mengharumkan nama bangsa diantaranya adalah
Choirudin Anas (SMA Semesta, Kota Semarang, Jawa Tengah). Dalam
penelitiannya berjudul Watercress-Biofilte r of Heavy Metals, Choirudin
menemukan alternatif penanganan pencemaran air dari polutan khususnya logam
berat dengan biaya yang murah. "Saya menggunakan eceng gondok. Mungkin orang
mengira eceng gondok adalah tanaman liar, tapi sebenarnya berperan besar
untuk mereduksi logam berat," katanya.
Atas penelitiannya, Choirudin berhasil menyabet medali emas pada lomba karya
ilmiah lingkungan hidup sedunia atau International Environmental Project
Olympiad (INEPO) yang berlangsung 10-13 Juni 2007 di Istambul, Turki.
Adapun Muhammad Dhika Ramadhan bersama Adidharma Sudradjat, keduanya siswa
kelas I SMA Pribadi Advanced School, menciptakan alat Tsunami Detector yang
berfungsi mendeteksi dini terjadinya tsunami. Atas temuan ini, mereka
berhasil meraih emas pada ajang International Young Inventors Project
Olympiad di Georgia pada Mei 2007.
Menurut Dhika komponen yang terpenting dari alat detektor tsunami adalah
transmiter dan receiver. " Transmiter ditaruh di tengah laut, sedangkan
receiver di pantai," katanya. Walaupun masih prototipe, kata Dhika, alat
berbiaya Rp. 150.000 ini dapat disempurnakan dengan mengganti chip yang
berbeda. Dhika mengaku, ide awal yang mencetuskan penelitian adalah dari
guru mereka, yang selanjutnya dikembangkan sendiri.
Sementara Fakhry Auzan berhasil menang dan membawa pulang medali emas pada
kompetisi Burc Science and Engineering Fair di Adana, Turki pada Mei 2007.
Pelajar kelas 2 SMA Fatih Bilingual School, Banda Aceh ini membuat mobil
robot polisi. Layaknya seperti polisi lalu lintas, di mana ada mobil yang
parkir sembarangan, dengan bantuan sensor mobil ini akan mencari dan
menilang pelanggar lalu lintas.
Lain halnya dengan Aulia Reza, siswa kelas 1 (SMA Kharisma Bangsa,
Tangerang, Banten) ini mendapat penghargaan emas di kompetisi INEPO yang
diselenggarakan di Azerbaijan pada April 2007. Dalam karyanya yang berjudul
Automatic Green House System, Aulia mencoba membuat rumah kaca yang
sepenuhnya dioperasikan secara otomatis. Sistem yang dikembangkannya akan
mengatur suhu kelembaban udara dan intensitas cahaya yang masuk ke ruangan
secara otomatis.
Mendiknas menyambut gembira atas prestasi membanggakan yang diraih para
pelajar Indonesia. Mendiknas akan mengusulkan ke presiden agar para pelajar
ini mendapatkan penghargaan. "Saya usulkan ke istana untuk mendapatkan
Bintang Satyalancana Wirakarya," kata Bambang.***
Laporan Wartawan Kompas Ester Lince Napitupulu
JAKARTA, KOMPAS - Karya
ilmiah para pelajar Indonesia berjaya di berbagai kompetisi
internasional. Pengakuan terhadap karya ilmiah hasil penelitian para
pelajar Indonesia itu membuahkan medali emas dalam berbagai kompetisi
sains dan teknologi tingkat pelajar di berbagai
negara.

Para pelajar Indonesia yang meraih medali emas dari penelitian
mereka yang disertakan dalam kompetisi sains dan teknologi pelajar
internasional sepanjang 2007 tersebut bertatap muka dengan Menteri
Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo di Jakarta, Selasa (26/6). Para
pelajar berprestasi ini tergabung dalam sekolah mitra Pasiad Indonesia
di berbagai daerah, yakni Asosiasi Solidaritas Sosial dan Ekonomi
Wilayah Asia Pasifik, untuk kerjasama Turki-Indonesia.

Bambang mengatakan bangga atas prestasi anak bangsa yang
mengharumkan nama Indonesia di luar negeri. Para siswa berprestasi ini,
kata Bambang, berhak mendapatkan beasiswa prestasi yang disediakan
pemerintah.

Para siswa yang meraih medali emas dalam kompetisi penelitian sains
dan teknologi adalah Choirudin Anas (SMA Semesta Semarang). Choirudin
yang ikut dalam International Environmental Project Olympiad (Inepo) di
Istambul, Pakistan, Juni lalu meneliti kegunaan enceng gondok yang
selama ini lebih dianggap sebagai tumbuhan liar atau pengganggu yang
ternyata bisa dimanfaatkan untuk menurunkan kadar polutan logam
berat.

Avlia Reza (SMA Kharisma Bangsa Tangerang), meraih medali emas di
kompetisi Inepo Azerbaijan April lalu. Siswa kelas 2 ini menciptakan
sistem otomatis rumah kaca, di mana temperatur, kelembaban, dan
intensitas cahaya yang diperlukan untuk rumah kaca diatur secara
otomatis yang bisa dipakai di negara mana saja.

Fakhry Auzan (SMA Fatih Bilingual, Banda Aceh), membawa pulang
medali emas dalam kompetisi Burc Science and Engineering Fair di Turki
bulan Mei lalu. Fakhry menciptakan mobil robot polisi yang bisa
menilang pelanggar lalu lintas dengan mengirimkan surat tilang kepada
pemilik mobil yang parkir sembarangan lewat email.

Adidharma Sudradjat dan M Dhika Ramadhan (SMA Pribadi Bandung)
berjaya di kompetisi International Young Inventor Project Olympiad di
Georgia, bulan Mei lalu. Mereka membuat prototipe detektor tsunami yang
murah dan efisien.

Para siswa ini mengatakan mendapat dukungan dari guru di sekolah
sehingga bisa menemukan ide penelitian. Guru memberikan masukan
mengenai penelitian yang bisa kami pilih. Kami pilih yang memang bisa
dikerjakan dengan inovasi-inovasi, kata Dhika.
SMAN 4 Denpasar Ciptakan Detektor Tsunami Termurah
Setelah anak-anak Smansa (SMAN 1 Denpasar) berjaya di ajang kompetisi mekanik tingkat nasional di ITS Surabaya dengan robot serbaguna dan sepeda mobilnya, tahun ini siswa Foursma (SMAN 4 Denpasar) memenangkan ajang bergengsi tersebut. Tim SMAN 4 Denpasar meraih juara I dengan menciptakan detektor tsunami yang paling murah dan sederhana. Seperti apa cara kerjanya?
-----
DARI ratusan peserta, hanya 10 finalis yang diundang ke ITS untuk mempresentasikan hasil karyanya. Sementara SMAN 4 Denpasar meloloskan lima tim, dua tim masing-masing meraih juara I dan III. Tim A terdiri atas I Made Maha Dwija Santya, Gusti Ngurah Lanang Indrakusuma dan Dewa Made Cakrabuana Aristokra dengan ciptaan detektor tsunami. Sementara tim B terdiri atas IB Hendra Prasetyawan, Agus Nyoman Astika dan Made Yudithia Krisnabayu dengan ciptaan alat pengampung baas (pemanen beras) meraih juara III. Juara II lari ke SMA BPPT Lamongan.
Jika detektor tsunami yang dibeli Indonesia dari AS mencapai 120 juta dolar AS, detektor sederhana ciptaan anak-anak Foursma ini bisa dibuat hanya dengan biaya Rp 100.000. Karena hampir semua bahan pembuatan detektor ini dari bahan bekas. Ide ini muncul setelah melihat kemampuan pemerintah membantu masyarakat pesisir dengan detektor tsunami tak memuaskan. Alat yang dibeli mahal itu, kata Maha Dwija, hanya terbatas dipasang di Samudera Hindia, tak menyentuh nelayan secara langsung. Makanya Maha Dwija dkk. berpikir menciptakan alat yang sederhana. Maka dicarikan sebatang pipa/besi, sirene, konduktor, katrol, pelampung, saklar dan beban.
Alat ini dirangkai sedemikian rupa dengan indikator utama air laut surut melebihi batas normal sehari-hari. Batas normal itu hanya nelayan setempat yang mengetahuinya. Sedangkan gejala tsunami lainnya seperti terciumnya bau garam menyengat, gempa, air pasang mendadak dan adanya dentuman keras bawah laut dinilai kurang efektif untuk memberi sinyal tsunami kepada masyarakat pesisir.
Detektor tsunami ciptaan Maha Dwija dkk. ini menggunakan prinsip Fisika yang sederhana. Pipa atau besi dibuat berbentuk T. Kaki pipa ini dibuat empat untuk ditanam di dasar laut di batas akhir air laut surut di pantai. Pada lubang yang satu diisi pelampung, yang lain diisi beban. Ketika air laut normal, pelampung akan mengapung. Saat air surut secara mendadak melebihi batas normal, pelampung ini akan menggerakkan katrol sehingga konduktor menempel ke saklar. Saklar ini dihubungkan dengan kabel yang disambung ke rumah-rumah nelayan di pinggir pantai. Saat itulah terdengar sirene sebagai tanda tsunami akan datang. ''Alat yang dibeli pemerintah tak efektif karena memerlukan waktu menginformasikan lagi kepada masyarakat, sedangkan sirene ini langsung didengar nelayan,'' ujar Lanang Indrakusuma.
Ciptaan ini menurut guru pembinanya Drs. Anam Zakaria sangat pas dengan kondisi masyarakat pesisir di Bali. Makanya wajar teknologi ciptaan anak asuhnya bernilai ekonomi tinggi dengan bahan sederhana. Minimal bisa menekan anggaran negara untuk membeli detektor tsunami. Hasil karya ini akan bermanfaat jika kalangan industri mau membeli hak cipta ini kemudian memproduksi di dalam negeri. (sue)
Kamis, 19 Juni 2008 12:44 WIB
JAKARTA, KAMIS - Alat deteksi dini tsunami buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi atau BPPT dipasang 50 mil laut di utara Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur. Alat ini bisa memberi peringatan dini sekitar 15 menit sebelum gelombang laut sampai ke daratan.

Detektor dini tsunami versi BPPT itu sebelumnya pernah dipasang di selatan Selat Sunda. "Ada pergantian baterai di perangkat dasarnya dan untuk mencocokkan tipe perairannya," kata Kepala Balai Teknologi Survei Kelautan BPPT Ridwan Djamaluddin di Jakarta, Rabu (18/6).

Alat seharga sekitar Rp 5 miliar itu dinilai kurang cocok dengan dinamika perairan Selat Sunda. Karena itu, dipindahkan ke lokasi yang lebih cocok di Nusa Tenggara Timur. Alat ini akan dipasang sekitar 50 mil dari Pulau Komodo pada kedalaman 2.450 meter. Jika terjadi tsunami, penduduk di darat masih sempat dievakusi sekitar 15 menit sebelum gelombang pencapai daratan sehingga jumlah korban bisa diminimalisasi.

Ketika berita ini ditulis, tim BPPT sedang bergerak menuju lokasi baru dengan menggunakan kapal riset Baruna Jaya IV. Kapal yang sama juga digunakan untuk memasang deteksi dini tsunami di laut dalam (deep-ocean assessment and reporting of tsunami/DART II-Easy to Deploy/ETD) dari Amerika Serikat.

Rencananya, alat tersebut selesai dipasang Jumat, 20 Juni 2008. "Sejauh ini tidak ada masalah dengan alat tersebut," ujar Koordinator Desain, Pemeliharaan, dan Operasi Sistem Peringatan Dini Tsunami BPPT Wahyu Pandoe.

Kawasan Nusa Tenggara Timur dipilih karena memiliki tingkat kerawanan tsunami yang relatif tinggi. Rencananya, sekitar 200 mil dari lokasi itu akan dipasang satu alat lagi.

Adapun perangkat deteksi dini tsunami yang akan dipasang terdiri atas dua perangkat, yakni perangkat di permukaan (buoy) dan perangkat di dasar laut (ocean bottom unit/OBU).

Buoy mengapung di permukaan laut dengan diameter sekitar 1 meter, lengkap dengan antena telekomunikasi, sensor meteorologi, dan pengirim sinyal akustik (transducer). Untuk mencegah terbawa arus, tali khusus menghubungkan buoy dengan pemberat ribuan kilogram.

Tak jauh dari lokasi itu, diletakkan OBU yang jarak maksimalnya 500 meter. Platform OBU terdiri atas sensor perekam tekanan, baterai, alat pemroses data terkomputerisasi, dan modem akustik pengirim sinyal data ke sensor permukaan.

Platform diberi pemberat antara 400 hingga 500 kilogram, selain bola-bola pengapung.

Cara kerja

Secara teknis, sensor di OBU mengirim data perubahan tekanan di kolom air secara otomatis. Pengiriman data dapat diatur waktunya. Pada kondisi normal, pengiriman data per satu jam atau sehari sekali. Bila terdeteksi tsunami, data dikirim per menit hingga 15 menit ke stasiun penerima data di BPPT.

Data yang sama diteruskan ke Pusat Sistem Peringatan Dini Tsunami Nasional di Badan Meteorologi dan Geofisika. Data matang dikirim ke daerah yang terindikasi tsunami.

Bila sukses terpasang di utara Pulau Komodo, akan menjadi buoy tsunami aktif keempat di Indonesia. Dua alat bantuan Jerman sudah dipasang di barat Sumatera dan satu alat lainnya di selatan Bali.

Alat DART II ETD yang dipasang di kedalaman 4.700 meter di selatan Pulau Bali, pekan lalu, telah mengirim data ke stasiun penerima data BPPT. (GSA/KOMPAS)
PEMANTAUAN TSUNAMI
Vandalisme, Bencana Sebelum Terjadi Bencana


BPPT
"Buoy" tsunami generasi pertama ditempatkan di sejumlah perairan Indonesia dengan menggunakan kapal Baruna Jaya IV, seperti terlihat di perairan utara Pulau Sumbawa, NTB. Alat yang sangat vital ini tidak terlepas dari tindakan vandalisme.
Rabu, 31 Desember 2008 01:06 WIB
Oleh Yuni Ikawati dan Gesit Ariyanto
Pukul 6 pagi, 30 Oktober 2008 lalu, operator di Indonesia Data Buoy Center Jakarta dikejutkan oleh hilangnya satu data di layar monitornya. Pada jajaran grafik tinggi muka laut di beberapa lokasi di Indonesia yang tampak di layar, tak muncul grafik untuk perairan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.
Mestinya data pantauan itu dikirim secara otomatis setiap jam oleh sistem telemetri di pelampung (buoy) yang tertambat di laut ke pusat data, yang berada di tengah laut ke Gedung I BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi).
Namun, ternyata data yang blank bukan itu saja. Data posisi buoy yang harusnya ditunjukkan oleh sistem GPS (global positioning system) juga tak muncul di layar komputer. Itu artinya Komodo—nama buoy di laut utara Pulau Sumbawa itu—tak berfungsi sama sekali.
Ridwan Djamaluddin, Kepala Program Buoy Tsunami Indonesia yang menerima laporan itu, meragukan Komodo kembali bermasalah. Karena buoy itu— setelah berhasil diamankan dari aksi pencurian pertama—baru diperbaiki dan ditempatkan kembali di lokasinya dua minggu sebelumnya.
Pada kasus pencurian pertama, berdasarkan antena GPS yang terpasang pada pelampung, dapat terdeteksi adanya tarikan, sedangkan arah pergerakannya melawan arus laut.
Berdasarkan itu, tim dari BPPT yang bergerak ke lokasi menemukan buoy telah terapung-apung terbawa arus. Rupanya alat itu setelah ditarik kemudian dilepas pelakunya. ”Alat itu kami perbaiki di Bima, sebelum dipasang lagi,” kata Wahyu Pandoe, Koordinator Desain, Pemeliharaan, dan Operasi Sistem Peringatan Dini Tsunami dari BPPT.
Penyelidikan tim pada kasus vandalisme kedua pada buoy yang telah diperbaiki dan dipasang di tempat yang sama menunjukkan semua komponen pada buoy itu telah habis dipreteli. ”Kali ini, tim menjumpai antena patah dan lampu sinyal hilang,” lapor Wahyu.
Kenyataan ini membuat Ridwan tak habis pikir mengapa hal itu masih terjadi. Padahal, BPPT telah melakukan sosialisasi tentang pentingnya pelampung itu pada masyarakat di daerah-daerah dekat lokasi pelampung itu ditambatkan.
Bukan itu saja, upaya teknis untuk mencegah hilangnya pelampung itu pun dilakukan. Hilangnya buoy generasi kedua buatan BPPT itu sebenarnya sudah diantisipasi dengan pilihan warna senada birunya laut. Bentuk pun minimalis, menyerupai limas tanpa satu pun pengait. Namun, antisipasi kehilangan seperti tiada berguna. ”Memang harus dipikirkan solusi lain agar lebih aman,” kata Ridwan.
Karena aksi vandalisme ini belum ditemukan cara yang efektif menangkalnya, lanjut Ridwan, pihaknya memutuskan menghentikan sementara program tersebut. Padahal, pengembangan jejaring pelampung itu merupakan bagian penting dari sistem Indonesia Tsunami Early Warning System.
Tingkatkan sosialisasi
Sementara program dihentikan, saat ini yang dilakukan adalah meningkatkan program sosialisasi tentang keberadaan dan pentingnya sistem pemantau tsunami ini.
”Masyarakat perlu diimbau agar tidak merusak buoy, bahkan diharapkan turut membantu menjaganya, karena buoy-buoy itu ada demi keselamatan kita semua,” paparnya. Pemasangan buoy akan dilanjutkan lagi sampai kondisi benar-benar aman bagi pengoperasian alat itu.
Dalam sosialisasi itu BPPT akan bekerja sama dengan Depkominfo untuk pemasangan iklan layanan masyarakat di televisi. Pihaknya juga akan bermitra dengan Depdagri untuk melakukan sosialisasi ke pemda serta Departemen Kelautan dan Perikanan untuk penyuluhan kepada masyarakat nelayan.
Masalah hilangnya sarana pemantau gempa dan tsunami ternyata tak hanya dihadapi BPPT yang mengelola sistem pelampung, tetapi juga dialami Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Perusakan pernah terjadi pada peralatan seismograf yang dipasang BMKG dan stasiun GPS yang dikelola LIPI di Sumatera serta Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional di Pulau Jawa.
Danny Hilman, peneliti geologi dari LIPI yang terlibat dalam pemasangan jejaring GPS di Sumatera sejak tahun 2002, juga sempat dibuat kesal oleh terjadinya kehilangan dan perusakan beberapa sistem yang terpasang.
Namun, ia kemudian menemukan cara jitu. Upaya yang dilakukan timnya adalah membangun stasiun GPS pada lokasi yang sesuai secara teknis, tetapi juga dekat dengan rumah si pemilik tanah sehingga ia ikut membantu mengawasi alat itu.
Sebelum pemasangan juga dilakukan pertemuan dengan kepala dusun dan pemuka masyarakat serta memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya fungsi sistem pemantau itu. ”Cara ini cukup sukses dalam mencegah terjadinya vandalisme,” jelas Danny.
Tiga faktor
Aksi kriminal pada sistem pemantau tsunami ini menurut pantauan BPPT meningkat sejak dua tahun lalu. Dari 9 buoy yang terpasang di Samudra Hindia, 5 hilang dan rusak permanen akibat dipreteli komponen elektronik dan sensornya sehingga tidak berfungsi lagi, ungkap Ridwan yang juga Kepala Balai Survei Kelautan BPPT.
Dua di antaranya pelampung detektor tsunami bantuan Badan Nasional Kelautan dan Atmosfer Amerika Serikat (NOAA), yang terakhir dipasang di selatan Bali pada pertengahan Juni 2008. Buoy berteknologi tinggi seharga Rp 2,5 miliar itu menyusul buoy generasi sebelumnya, yang hilang dari perairan barat Sumatera.
Menurut Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman, ada tiga faktor yang mendorong aksi vandalisme, yaitu karena dorongan kebutuhan ”perut”, ketidaktahuan pentingnya alat itu, dan karena iseng.
Ketidaktahuan dapat diatasi dengan membangkitkan kepedulian masyarakat lewat media massa dan jalur pendidikan, sedangkan bila disebabkan oleh desakan kebutuhan hidup sehari-hari memang sulit diatasi, kecuali jika kesejahteraan mereka diperbaiki dan ada peluang kerja dan usaha bagi mereka. ”Vandalisme itu paling sulit diatasi bila didasari keisengan. Karena ini termasuk kategori ’penyakit’ psikologis,” ujar Kusmayanto.
Sarana vital
Keberadaan buoy tsunami jelas merupakan sarana yang vital. Petugas stasiun pemantau di darat butuh data perubahan gelombang dan data seismik pascagempa bumi di lautan yang bergantung pada buoy.
Tanpa itu, data yang diolah jauh dari akurat sehingga sulit dijadikan acuan peringatan dini. Akibatnya, ribuan warga di kawasan pesisir berada dalam bahaya yang tak terdeteksi.
Fakta hilangnya sejumlah buoy tsunami seperti tamparan bagi harapan dunia. Peresmian Sistem Operasional Peringatan Dini Tsunami Indonesia (InaTEWS) mengukuhkan posisi penting Indonesia dalam penyebaran peringatan dini tsunami bagi negara-negara di kawasan Samudra Hindia.
”Warga pesisir di banyak negara dapat terbantu oleh teknologi sistem peringatan dini ini,” kata utusan Sekretaris Jenderal PBB Salvano Briceno saat peresmian di gedung BMKG pekan lalu. Tak tanggung-tanggung, lima negara bekerja sama mendukung kesiapan petugas dan peralatan pendukungnya.
Tahun 2011, Indonesia dengan InaTEWS-nya diproyeksikan menggantikan peran Badan Meteorologi Jepang dan Pusat Peringatan Dini Pasifik menyuplai informasi pemantauan tsunami di Samudra Pasifik. Artinya, peralatan pendukung seperti buoy tsunami harus lebih rapat memagari perairan laut Indonesia.
”Penambahan jumlah dan keakuratan jadi syarat mutlak,” kata Ketua Kelompok Komisi Oseanografi Antarnegara (IOC) Unesco untuk Sistem Peringatan Dini di Samudra Hindia Jan Sopaheluwakan.
Sebelum dambaan dunia akan peran penting Indonesia itu terwujud, mekanisme baru menjaga keberadaan buoy tsunami harus dipastikan. Atau, harapan itu hilang seiring hilangnya buoy tsunami satu per satu. Jika buoy itu hilang, sama artinya dengan bencana sebelum bencana tsunami datang....


Detektor Tsunami Dibiarkan Terbengkalai

Liputan6.com, Banda Aceh: Tsunami telah merenggut ribuan nyawa warga Nanggroe Aceh Darussalam, dua tahun silam. Belajar dari pengalaman ini, pemerintah sepakat untuk mendirikan sistem peringatan dini tsunami. Namun alat deteksi tsunami di Banda Aceh, saat ini kurang terawat. Penjagaan terhadap alat ini juga terlihat seadanya. Demikian hasil pantauan SCTV di Banda Aceh, NAD, Ahad (24/12).
Di Banda Aceh, sedikitnya enam pemancar sirene peringatan tsunami dipasang. Satu di antaranya adalah menara di Pantai Ulele yang merupakan alat penangkap sinyal dari alat deteksi tsunami yang dipasang di tengah laut. Bila sinyal yang dipancarkan menunjukkan gejala tsunami maka di menara ini akan berbunyi sirene yang mengisyaratkan warga untuk segera mengungsi. Sayang, alat yang begitu penting ini tampak kurang terawat. Alang-alang di sekitarnya tampak tinggi.
Selain sistem peringatan, para pengungsi juga terkesan ditelantarkan. Tengok saja lokasi pengungsian di Lambaro, Kuta Alam, Banda Aceh. Barak yang hanya berjarak satu kilometer dari Gedung Gubernur Aceh itu kondisinya sungguh memprihatinkan. Selama setahun terakhir, fasilitas untuk mandi, cuci dan kakus tak bisa digunakan karena tak ada air. Jamban untuk buang air besar juga mampat.
Menurut penghuni barak, kondisi itu memang telah berlangsung lama. Saluran air di daerah itu pun sudah tak lagi berfungsi. Genangan air terlihat di sejumlah tempat jika musim hujan datang. Tentu, kondisi ini sangat rentan mengundang berbagai penyakit dan banjir.
Salah satu keluarga yang menghuni barak itu adalah Ainal Mardiah. Ibu lima anak ini terpaksa tinggal dengan fasilitas seadanya lantaran tak punya pilihan lain. Di tempat yang tak bisa dibilang luas itu dia hidup bersama suami dan lima orang anaknya. Untuk membantu perekonomian keluarga, Ainal menjadi tukang jahit.
Ainal dan suami memang tidur di dalam kamar yang terpisah dengan anak-anaknya. Namun sekat kedua kamar itu hanya dipisahkan oleh terpal plastik. Bisa dikatakan, pasangan suami-istri ini tak memiliki cukup ruang privasi.
Tak salah rasanya jika ada sejumlah pihak yang mengatakan, rekonstruksi Aceh pascatsunami terkesan jalan di tempat. Bukti lain, sejumlah ruas jalan di Kabupaten Simeulue masih tak bisa dilalui kendaraan. Banyak pula jembatan yang masih rusak parah sehingga tak bisa dilewati kendaraan roda empat. Karena itu, hingga kini distribusi bagi warga di daerah yang cukup parah dihantam tsunami itu masih belum maksimal [baca: Rekonstruksi Pasca-Tsunami Lamban].
Salah satu jembatan yang tak bisa lagi dilalui kendaraan terdapat di Luan Anao di Teupah Selatan. Kondisi jalan penghubung ini nyaris putus sehingga atas swadaya warga, dibuat jalan darurat untuk kendaraan roda dua. Warga berharap, pemerintah segera memperbaiki sarana jalan dan jembatan agar aktivitas mereka dapat berkembang. Selama ini dengan kondisi seperti yang ada sekarang warga setempat tak merasa lebih baik dari sejak terjadi tsunaMeramal Datangnya Tsunami
Hampir semua pantai di Indonesia rawan terjangan tsunami. Bila anak Krakatau meletus, Pantai Anyer, Carita, hingga Ujungkulon akan tersapu gelombang
PANTAI Carita dan Anyer memang punya pemandangan yang indah. Tak heran bila di sepanjang pantai itu bermunculan hotel. Ternyata di- sana ada bahaya mengancam: sewaktu-waktu disapu tsunami atau gelombang yang terjadi akibat aktivitas seismik di dasar laut.

Inilah bahaya yang mengintai wilayah pantai Selat Sunda. Apabila terjadi letusan anak Krakatau atau jatuhan lahar yang besar ke laut, gelombang setinggi 9-15 meter akan menghantam pantai bagian barat Jawa Barat mulai dari Anyer, Tanjunglesung, Panaitan, sampai sekitar Ujungkulon.

Ini bukan ramalan. Kedahsyatan gelombang itu dihitung dengan teliti, atas dasar survei bagian Matra Laut Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sejak 1992—setelah tsunami menerjang Flores dan menewaskan lebih dari 2.000 orang. Saat itu, Desember 1992, ketinggian gelombang di Flores Timur mencapai 26,2 meter.

Tsunami juga menghantam Banyuwangi (1994) dan Sulawesi Selatan (1996) walaupun jumlah korbannya tidak seberapa. Menurut penelitian BPPT, daerah rawan tsunami lainnya adalah pantai Manado, pantai timur Kalimantan, pantai barat Sumatra, dan kepulauan di Maluku. "Pantai Indonesia hampir semuanya rawan tsunami kecuali yang menghadap ke Laut Jawa," kata Manajer Kompetensi Inti Kelautan Direktorat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam, BPPT, Yusuf S. Djajadihardja.

Selain itu, BPPT juga membuat modelling numerik tsunami yang bisa ditampilkan dalam simulasi dari data yang telah dikumpulkannya, seperti kedalaman laut, catatan gempa, zona patahan, aktivitas gunung berapi, dan aktivitas seismik lainnya. Selain Selat Sunda dan Selat Makassar, pada akhir Februari pantai barat Sumatra juga sudah bisa dilihat zonasi tsunaminya. "Manado juga sudah kami lihat profil lautnya. Sangat curam. Jadi berbahaya juga untuk bangunan," ujar Yusuf.

Bila dibandingkan dengan Amerika atau Kanada, bahaya yang mengancam pantai-pantai di Indonesia memang lebih besar. Itu disebabkan oleh dekatnya pantai dengan zona subduksi, tempat gempa berasal. Di zona yang merupakan pertemuan bagian daratan dengan bagian dasar laut ini mudah terjadi patahan, longsoran, dan geseran kulit bumi dasar laut. Di Laut Selatan Jawa, misalnya, jarak pantai dengan pusat gempa cuma 50 kilometer. Di Kepulauan Maluku dan Sulawesi bagian timur bahkan bisa terjadi tsunami lokal karena begitu dekatnya zona subduksi dengan pantai.

Oleh karena itu, sistem peringatan akan datangnya tsunami dengan radar deteksi yang dipergunakan Amerika atau Kanada tidak cocok dipergunakan di sini. Di Amerika atau Kanada cukup dengan pelampung yang ditempatkan di Samudra Pasifik, pelampung itu akan mengirim data tentang tinggi gelombang dan perubahan tekanan. Cara ini cukup memadai karena gelombang tsunaminya butuh waktu sehari untuk mencapai pantai. "Tapi di Indonesia waktu tempuh ke pantai hanya 3-5 menit saja," kata Yusuf.

Alternatif yang disodorkan BPPT untuk meramalkan datangnya tsunami adalah suatu detektor pasif yang diletakkan di beberapa pantai. Detektor ini hanya akan mengirim data ke stasiun pemantau melalui satelit bila terjadi gelombang yang "aneh' yang ditimbulkan oleh gelombang tsunami. Penjelasannya sebagai berikut. Setiap gelombang laut mengalirkan arus listrik dan menimbulkan medan magnet. Karena tsunami medan magnetnya sangat besar di layar monitor akan tampak arus menjalar yang disebut arus soliter—tak seperti gelombang biasa yang tampak naik turun. "Kalau kita melihat gelombang soliter peringatan harus diberikan kepada penduduk," kata Yusuf.

Bila proyek BPPT ini berjalan mulus, dalam tiga tahun mendatang, akan dihasilkan peta lengkap yang bisa digunakan untuk perencanaan tata ruang. Sayang—mungkin karena krisis—proyek ini masih mendapat prioritas rendah dari Bappenas. Tahun lalu hanya Rp 15 juta dana yang dialokasikan untuk proyek ini.

Sembari menunggu hasilnya, seorang peneliti yang ikut terlibat dalam proyek itu, Gegar Sapta Prasetya, menyarankan agar jarak bangunan dan pantai jangan kurang dari 500 meter. Sebagai pelindung, sarannya, hijaukan pantai dengan pohon pinus atau bakau yang berguna untuk memecah gelombang. Cara ini selain murah memang telah terbukti ampuh. Ketika tsunami menerjang Flores, desa di timur Maumere ternyata diselamatkan oleh benteng alam tiga lapis: terumbu karang, hutan bakau, dan kebun kelapa rapat yang membatasi desa dan pantai.

Gabriel Sugrahetty, IGG Maha Adi
mi.(YAN/Tim Liputan 6 SCTV)
Detektor Tsunami Bisa Terbengkalai
Rabu, 22 April 2009 03:49 WIB
Merak, Kompas - Peralatan detektor tsunami di Samudra Hindia sebelah selatan Jawa-Sumatera yang berasal dari bantuan Pemerintah Jerman berpotensi terbengkalai. Pemerintah Indonesia belum menetapkan alokasi dana pemeliharaan untuk setiap buoy tsunami senilai Rp 4,5 miliar itu yang memiliki masa operasional sampai 25 tahun lamanya.
”Pemerintah belum anggarkan dana perawatan, baru tahap dialog,” kata Kepala Balai Teknologi Survei Kelautan pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Ridwan Djamaluddin saat upacara peluncuran empat pelampung (buoy ) dari Jerman, Selasa (21/4) di Pelabuhan Merak, Banten.
Bantuan pendeteksi tsunami dari Jerman itu telah terpasang pada 9-19 April 2009 sebanyak empat unit di barat Sumatera. Kemudian mulai kemarin dilanjutkan lagi penempatan empat unit buoy yang akan dipasang di selatan Jawa. Direncanakan bantuan secara keseluruhan sebanyak 10 buoy.
Pemeliharaan
Menurut Ridwan, Jerman hanya berkontribusi pada pembuatan dan pemasangan 10 buoy tersebut. Masalah pemeliharaan dan operasionalnya diserahkan kepada Indonesia yang kini masih saja pada tahap dialog kepada negara-negara donor untuk turut membiayainya.
Hadir dalam upacara tersebut mewakili Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Wakil Dubes Jerman Hans Joerg Grunner yang menyatakan, bantuan itu sebagai rangkaian kerja sama untuk membangun sistem peringatan dini tsunami.
Deputi Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam BPPT Yana Anggadiredja juga turut hadir. Dalam konferensi pers, Yana menuturkan, vandalisme merupakan salah satu ancaman kelangsungan operasional buoy pendeteksi tsunami itu. ”Sudah lima kali terjadi vandalisme buoy, tetapi bukan dari bantuan Jerman,” kata Yana.
Menurut Yana, sosialisasi pemasangan dan manfaat buoy masih sangat perlu digalakkan. Untuk itu perlu ditempuh kerja sama dengan para nelayan maupun satuan aparat pengaman kelautan.
Ridwan menjelaskan, mekanisme operasionalisasi buoy saat ini pada hitungan tiga menit sudah mampu menyajikan informasi potensi tsunami untuk digabungkan dengan monitoring seismograf di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Selanjutnya, dalam dua menit kemudian BMKG dapat memutuskan peringatan dini potensi tsunami.
Adapun jeda dari penyampaian peringatan dini potensi tsunami dengan kejadian tsunami menerjang pantai itu diharapkan 20-30 menit. (NAW)
Helikopter untuk Deteksi Tsunami dan Kebakaran Hutan
Senin, 07-05-2007 14:53:50 oleh: Stevan Ramadhan
Kanal: Iptek
Helikopter pendeteksi tsunami dan kebakaran hutan milik Syarifuddin Al Amin, mahasiswa Universitas Bung Hatta (UBH) Fakultas Teknologi Industri (FTI) jurusan Teknik Elektro tidak berhenti sampai di sana. Karya tersebut itu terus dikembangkan mahasiswa lain di FTI UBH, menjadi pesawat mini dengan fungsi sama. Pesawat tanpa awak jenis Hurricane (pesawat aero modeling) ini, mempunyai kelebihan dalam kecepatan pengambilan data.
”Kelebihan lainnya juga bisa memantau lalu lintas udara serta mampu mengambil foto udara. Pesawat itu dirancang Syaifa Mulyadi dari jurusan yang sama perancang helikopter deteksi tsunami,” kata Kabag Humas UBH, Indrawadi kemarin. Ia menyebutkan, Syaifa Mulyadi telah memulai melakukan percobaan penerbangan pesawatnya baru-baru ini, di lapangan Lanud Bandara Tabing.
”Prototype (tiruan) pesawat rancangan Syaifa ini mempunyai keunggulan, antara lain mudah menuju lokasi yang sulit, kecepatan bisa mencapai 120 km/jam, mampu terbang setinggi 1,5 km daya jelajah sejauh 10 km dengan daya angkut 10 kg dan tidak memerlukan landasan yang terlalu panjang,” sebutnya. Menurut Syaifa, rancangan pesawat mini multifungsi tersebut dilatarbelakangi dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi microcontroller, sehingga memotivasi para ahli dan mahasiswa untuk menghasilkan penemuan-penemuan di bidang sistem pengontrolan dan penelitian-penelitian robotic.
”Penelitian yang berhubungan robotic tersebut dapat dikontrol pada sebuah pesawat terbang mini tanpa awak dengan menggunakan microprocessor yang sangat peka terhadap pengendalian pesawat saat terbang dengan kecepatan tinggi sejauh 10 km,” kata Syaifa menerangkan cara kerja hasil karyanya. ”Biaya perawatan dan perbaikan relatif lebih murah, karena risiko dengan pesawat prototype lebih kecil, juga diprogram serta didesain untuk dapat melayang di udara,” tambah mahasiswa yang juga instruktur ’Minang Aeromodeling Club’ di Lanud Tabing itu.
Keunggulan dari pengaksesan data, jelas Syaifa, karena dukungan peralatan yang dibawa sehingga memudahkan akses setelah data disensor oleh kamera. ”Jadi, kita di darat bisa dapatkan data yang diambil pesawat secara online,” sebutnya. Syaifa berharap rancangan tugas akhir S-1 di UBH itu juga mampu meningkatkan minat dunia aero modeling di Sumbar. (abk)

Sumber: koran Padang Ekspres edisi Senin 7 Mei 2007
Tsunami Raksasa Berulang Tiap 400 Tahun
Jum'at, 14 November 2008 17:02 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Bencana tsunami raksasa (giant tsunami) seperti yang terjadi di Aceh pada 2004 yang menelan 100 jiwa lebih, pernah terjadi sekitar 400 tahun silam. Bukti adanya bencana dengan skala yang sama besarnya ini diperoleh para pakar palaeotsunami (tsnuami purba) setelah melakukan penelitian di Meulaboh, Aceh dan Thailand Selatan.
Hasil penelitian ini telah dipublikasikan melalui jurnal internasional Nature edisi terbaru. "Seandainya temuan ini sudah terungkap sebelum 2004, usaha untuk menekan jumlah korban jiwa dan kerugian mungkin dapat dilakukan pemerintah dan masyarakat," kata Hendra nami yang juga staf pengajar Fakultas Geologi UGM, Jumat (14/11).

Menurut Hendra, sedikitnya jumlah peneliti tsunami dan palaeotsunami sangat kontras dengan banyaknya bencana di Indonesia. UGM bekerja sama dengan LIPI dan Geoscience Australia mengumpulkan para pakar tsunami dan palaeotsinami. Hasil penelitian dipaparkan melalui simposium bertema ”Workshop on the Application of Palaeotsunami Science to Tsunami Mitigation in Indonesia” di Wisma Kagama Yogyakarta, Sabtu (15/11).

Hendra menambahkan, temuan para pakar palaeotsunami tentang adanya bencana tsunami raksasa ini sebenarnya bisa menjadi alat peringatan dini alternatif. Melalui simposium ini para peneliti akan memaparkan hasil penelitian terbaru palaeotsunami di Selatan Pulau Jawa serta terjadinya tsunami raksasa 400 tahun lalu di Lombok, Biak dan Pulau Simeuleu Aceh.
Pendidikan Siaga Tsunami untuk Warga Pesisir
Senin, 13 Oktober 2008 16:31 WIB
TEMPO Interaktif , Padang: Perlunya memahami bencana tsunami khususnya di daerah pesisir barat Sumatera membuat lembaga swadaya Komunitas Siaga Tsunami memfokuskan ke tujuh daerah pesisir barat Sumatera Barat.

Direktur Eksekutrif Kogami, Patra Rina Dewi, Senin (13/10) dalam acara peluncuran program kerja Kogami di Hotel Bumiminang, Padang mengatakan Kogami masih memfokuskan program kerjanya untuk pendidikan kesiagaan tsunami di sekolah-sekolah dan masyarakat terutama di tujuh daerah pesisir Sumatera Barat yang rawan tsunami seperti Pariaman, Padangpariaman, Agam, Pesisir Selatan, Padang, Pasaman Barat dan Kepualauan Mentawai.

"Kami menargetkan hingga 2010 sekitar 30 persen sekolah di Sumatera Barat menjadi sekolah model untuk siaga bencana, saat ini sedang berjalan program sekolah bencana di 12 sekolah di Kota Padang mulai dari sekolah dasar hingga tingkat sekolah menengah atas, program ini disingkronkan dengan kurikulum yang ada dan masuk ke dalam muatan lokal," kata Patra Rina Dewi,

Selain itu Kogami juga akan membuat pelatihan bagi pegawai pemerintah dan pembuatan posko siaga di tujuh daerah rawan serta melakukan rangkaian sosialisasi kesiagaan bencana kepada masyarakat dan membuat peta resiko bencana wilayah.

Untuk merealisasikan program kerjanya, Kogami menganggarkan biaya Rp900 juta setiap tahun yang di antaranya bersumber dari APBD Sumatera Barat Rp300 juta per tahun dan APBD Padang Rp100 juta per tahun.

Selain bermitra dengan pemerintah, Kogami juga menjalin kerjasama dengan Unesco dan sejumlah LSM seperti Surf Aid untuk Kepualauan Mentawai.
Indonesia Pernah Dihantam Tsunami 600 Tahun Lalu
Kamis, 30 Oktober 2008 09:33 WIB
TEMPO Interaktif, Paris: Gelombang tsunami besar pernah menghantam Thailand dan Indonesia sekitar 600 tahun lalu. Dua tim penelitian geologi memperkirakan tsunami Desember 2004 masih lebih besar dari tsunami 600 tahun lalu.

Menurut para peneliti, rentang waktu yang cukup lama antara kedua tsunami tersebut bisa menjelaskan secara geologis mengapa gempa bumi di dalam laut yang menewaskan ratusan ribu orang pada 2004 terjadi.

Hasil penelitian tersebut terungkap dalam jurnal 'Nature' edisi Kamis. Dua tim peneliti melaporkan bahwa setelah melakukan penggalian dan mengambil sample inti di Thailand dan Sumatera sebelah utara, mereka menyimpulkan bahwa terjadi tsunami antara tahun 1300 sampai 1400.

Para peneliti menemukan endapan pasir yang diduga merupakan sisa dari gelombang tsunami. Mereka mengestimasi usia pasir tersebut dengan meneliti usia karbon dari sisa-sisa tanaman yang ditemukan di bawah endapan pasir. Endapan pasir di Sumatera diduga ada antara tahun 1290-1400. Sementara di Thailand ada antara tahun 1300-1450.
Tsunami pada Desember 2004 lalu menewaskan sekitar 202.000 orang di 14 negara. Gelombang tsunami setinggi lebih dari 100 kaki itu menghantam Aceh dan mengendapkan pasir lebih dari satu mil di daratan. Di Thailand, gelombang tersebut juga menghantam mencapai satu mil ke daratan. Akibat gelombang itu terdapat endapan pasir setebal dua sampai delapan inchi.
4.000 Penduduk Maladewa Pindah ke Pulau yang Lebih Aman
Jum'at, 13 Maret 2009 17:14 WIB
TEMPO Interaktif, Washington: Hampir 4.000 penduduk di Maladewa yang selama empat tahun ini hidup sebagai pengungsi korban bencana tsunami akhirnya menempati rumah-rumah baru mereka di pulau baru yang lebih aman. Relokasi secara resmi dilakukan kemarin.

Dhuvaafaru, sebuah pulau koral tak berpenghuni, dipilih karena memiliki "benteng" karang di sekelilingnya. Kandholhudhoo, pulau sebelumnya, yang masih bertetangga, "telanjang" dan terbukti tersapu tsunami akhir 2004 lalu.

Maladewa adalah negara di tengah Samudra Hindia yang sudah lebih dulu rentan tenggelam karena bencana kenaikan muka air laut. Gelombang dalam tsunami pada 2004 lalu menerjang lebih dari sepertiga penduduknya. Total, lebih dari 29 ribu penduduknya kehilangan tempat tinggal.

"Ini adalah proyek konstruksi tunggal yang terbesar yang pernah ditangani Sekretariat International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC)," ujar Per Jensnaes, kepala delegasi IFRC di Maladewa. "Tidak mudah memang, tapi kami kini sudah memiliki lingkungan yang jauh lebih aman dari kemungkinan bencana alam di masa depan."

IFRC mulai membangun Dhuvaafaru, pulau seluas 40 hektare, mulai April 2006. Dalam tiga tahun dana sebesar US$ 32 juta dihabiskan demi menyulap pulau yang semula kosong itu menjadi kota baru lengkap dengan 600 rumah, tiga sekolah, satu kompleks pemerintahan, satu auditorium, satu pusat kesehatan, dan satu stadion olahraga.

IFRC juga membangun pembangkit listrik, sistem pengolahan sampah, serta jaringan jalan. "Membangun pulau tak berpenghuni menjadi 'sebuah pulau yang aman' bagi populasi 4.000 orang benar-benar luar biasa," kata Presiden Maladewa Mohamed Nasheed.
New York Purba Pernah Dihantam Tsunami
Selasa, 05 Mei 2009 15:24 WIB
TEMPO Interaktif, Tennessee: Tsunami ternyata pernah menghantam kawasan yang sekarang menjadi Kota New York 2.300 tahun lalu. Tsunami membuat sedimen dan kerang-kerangan tertimbun bermeter-meter di sepanjang Long Island dan New Jersey, selain pecahan kayu yang nyasar sampai ke hulu Sungai Hudson.

Skenario itu masih diuji lebih jauh untuk dilakukan verifikasi penanggalan radiokarbon, termasuk memastikan apakah itu semua disebabkan oleh tsunami. Tapi, yang jelas, deposit sedimen yang telah diambil dari 20 titik lokasi di New York dan New Jersey itu mengindikasikan bahwa kekuatan semacam amuk gelombang laut telah menyapu kawasan pantai di Timur Laut pada 300 Sebelum Masehi.

Memang tidak sebesar tsunami Aceh pada 2004, tapi untuk saat ini skala gelombang laut tersebut sudah cukup membanjiri Wall Street dan Long Island Expressway. "Kami bisa saja salah dan bencana berasal dari badai," kata Steven Goodbred, geolog di Vanderbilt University, Tennessee, Amerika Serikat. "Tapi, kalau memang badai, ia harus sangat dahsyat karena butuh gelombang yang sangat kuat dan cepat untuk bisa memindahkan semua material ini."

Tapi, kalaupun benar karena tsunami dan Neal Driscoll, geolog dari Scripps Institution of Oceanography, menyatakan tsunami dari Atlantik bukan berarti tidak mungkin, penyebabnya juga masih belum jelas. Longsor dasar laut menjadi teori yang paling mungkin, tapi kelompok riset lain mengungkapkan pemicu lain berupa asteroid jatuh.

Alat Deteksi Tsunami Akan Dilengkapi Sensor Gelombang dan Suhu
Selasa, 22 Mei 2007 15:50
BERI KOMENTAR
________________________________________
CETAK BERITA INI
________________________________________
KIRIM KE TEMAN
________________________________________
Ikuti Kuis Berhadiah, Revenge Movies

Kapanlagi.com - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berencana melengkapi alat deteksi tsunami, yang terdiri atas Buoy dan Oceon Bottom Unit (OBU), dengan sensor gelombang dan suhu supaya bisa digunakan untuk mendeteksi gejala oseanografi seperti kenaikan tinggi gelombang pasang.
"Kita ada rencana untuk menambahkan sensor suhu dan gelombang, yang biasanya tidak ada di Tsunami Buoy Early Warning System, pada buoy generasi kedua yang akan kita buat," kata Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Sumber Daya Alam, Jana Tjahjana Anggadiredja di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, hal itu dilakukan supaya alat deteksi tsunami tersebut juga dapat mendeteksi gejala kenaikan tinggi gelombang air laut yang dapat menganggu lalu lintas perairan serta aktifitas nelayan.
Saat ini, ia menjelaskan, BPPT sudah membuat sebuah buoy dan OBU yang merupakan komponen utama sistem peringatan dini Tsunami (Tsunami Early Warning System/TEWS) dan menempatkannya di perairan Selat Sunda.
"Alat itu sudah bekerja, OBU-nya sudah bisa berkomunikasi dengan buoy permukaan dan buoy sudah bisa berkomunikasi dengan satelit dan sampai ke lantai 20 gedung BPPT. Selanjutnya kita akan membuat empat buoy, satu buoy generasi satu dan tiga buoy generasi kedua yang dilengkapi sensor suhu dan gelombang pendek," jelasnya.
Lebih lanjut Jana menjelaskan pula bahwa saat ini sebanyak empat Buoy dan OBU sudah terpasang di beberapa wilayah perairan RI yakni satu perangkat buatan Indonesia, dua unit bantuan Jerman (dipasang di perairan barat Padang dan utara Aceh-red) dan satu unit bantuan Malaysia.
Pada akhir 2008 rencananya sudah
Tsunami 2004, January 2005

Tidak ada komentar:

Posting Komentar